tinggal setetes lagi ya Tuhan. tinggal setetes lagi harapanku. setetes harapan akan memuaskan dahaga dalam kasarnya pasir-pasir gurun. Kau bilang, tak akan Kau biarkan diriMu dipermalukan, maka terjadilah!
Oh, Tuhan. kasihanilah aku dengan setitik harapan. Mereka mengejekku karena hatiku lebih memilih disembelih bersama Darah Pengurbanan. kalau aku akan menyerah, ikatlah hatiku kuat-kuat, agar tak pernah berpisah dari curahan darah tulus.
Aroma hujan tak seenak yang kau sebutkan. Aku baru saja menertawainya, dia seolah tahu isi hatiku yang kututup rapat. Ah, hujan, hujan.. jangan-jangan Penciptamu yang menyuruhmu ya?
saya selalu terbiasa berkata pada diri saya: Tika, tahu diri! ingat siapa dirimu? sehingga bulu-bulu sombong di lengan pun harus menunduk. Tapi kadang-kadang saya muak, dengan kami yang sering tak tahu diri!